• Kamis, 8 Desember 2022

Kasus Gangguan Ginjal Akut di Indoneisa Mencapai 245 Korban, 141 di Antaranya Meninggal Dunia

- Selasa, 25 Oktober 2022 | 00:51 WIB
ilustrasi anak di bawah umur lima tahun
ilustrasi anak di bawah umur lima tahun

Jatengpost.com - Hingga Minggu (23/10), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan jumlah pasien dengan gangguan ginjal akut progresif atipikal di Indonesia mencapai hingga angka 245 anak. 

Dilaporkan, mayoritas pasien merupakan usia anak. Dengan pasien yang terbanyak bayi di bawah umur lima tahun (Balita). Juru bicara Kemenkes, Mohammad Syahril menyampaikan dari ratusan kasus yang diidentifikasi, 141 di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

"Data per 23 Oktober, 245 kasus. 141 pasien di antaranya meninggal dunia," ujar Syahril, seperti dikutip dari CNNIndonesia, Senin (24/10).

Baca Juga: Segera Bentuk Tim Usut Dugaan Pidana pada Kasus Gagal Ginjal Akut, Polri Bangun Kerja Sama dengan BPOM

Data yang diterima Kemenkes, menurut Syahril merupakan kolektif atau total kumulatif data pasien yang dilaporkan dari 26 provinsi Indonesia. Syahril sendiri hingga saat ini belum membeberkan rincian data dan sebaran kasus terbaru.

Tetapi, berdasarkan sebaran data sebelumnya diketahui Provinsi DKI Jakarta menjadi yang tertinggi. Dikabarkan DKI Jakarta ditemukan kasus dan dan kematian tertinggi akibat penyakit gangguan ginjal tersebut dibandingkan Provinsi lainnya.

Sebelumnya, Kemenkes telah mengimbau masyarakat, terutama orang tua agar segera membawa anak mereka ke faskes terdekat jika mengalami gejala penyakit tersebut. Salah satu gejalanya sendiri, sang pengidap alami penurunan volume buang air kecil.

Baca Juga: Terkana Sanksi Lisan dari PDIP, Ganjar Buka Suara: Saya Taat Semua Keputusan Ketua Umum

Kewaspadaan para orang tua menurutnya juga perlu dilakukan dengan cara terus memantau jumlah dan warna urin yang pekat atau kecoklatan pada anak. Apabila urine berkurang atau berjumlah kurang dari 0,5ml/kgBB/jam dalam 6-12 jam atau tidak ada urine selama 6-8 jam, maka pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit.

Selanjutnya, pihak rumah sakit diminta melakukan pemeriksaan fungsi ginjal yakni ureum dan kreatinin. Apabila hasil fungsi ginjal menunjukkan adanya peningkatan, maka dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis, evaluasi kemungkinan etiologi dan komplikasi.

Halaman:

Editor: Anjas Jazuli

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X